Rabu, 16 Juni 2010

Pura Besakih - Karangasem

Di Pura Besakih alam semesta divisualisasikan dalam berbagai dimensi. Misalnya di Panataran Agung di Mandala Kedua hulunya Salu Panjang atau sering juga disebut Bale Agung ada palinggih Ider Bhuwana. Salu Panjang itu bertiang 24 di kanan Balai Pawedaan yang sering disebut Balai Gajah. Bangunan yang disebut palinggih Ider Bhuwana itu melambangkan bahwa alam ini adalah satu dan bulat adanya. Karena itu disebut Anda Bhuwana yang artinya alam yang bentuknya bulat seperti telur. Kata anda dalam bahasa Sanskerta berarti telur dan bhuwana berarti alam seperti planet-planet isi ruang angkasa ini.

Di samping alam dilukiskan satu dan bundar oleh palinggih Ider Bhuwana, alam juga dilukiskan sebagai alam bawah dan alam atas. Alam bawah di Pura Besakih divisualisasikan sebagai ”Soring Ambal-Ambal”. Sedangkan alam atas divisualisasikan “Luhuring Ambal-Ambal”. Komplek Pura Besakih ada yang digolongkan pura di Soring Ambal-Ambal dan ada Pura yang tergolong di Luhuring Ambal-Ambal.

Pura yang tergolong di Soring Ambal Ambal antara lain Pura Pesimpangan, Pura Manik Mas, Pura Bangun Sakti, Pura Merajan Selonding, Pura Gua Raja, Pura Rambut Sedana, Pura Basukian, Pura Dalem Puri, Pura Jenggala, Pura Banua dan Pura Merajan Kanginan. Pura yang tergolong di Luhuring Ambal Ambal adalah Pura Penataran Agung Besakih, Pura Batu Madeg, Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul, Pura Peninjauan, Pura Tirtha, Pura Pengubengan, dan Pura Pasar Agung di Desa Sebudi. Kompleks : Pura Besakih ini sering disebut kompleks 18 pura. Hal ini disebabkan Pura Goa Raja dan Pura Rambut Sedana dianggap satu kompleks.

Pura Soring Ambal-Ambal lambang keberadaan alam bawah yang disebut Sapta Patala yang berarti tujuh lapisan alam bawah. Sedangkan Pura-Luhuring Ambal-Ambal lambang keberadaan alam atas dan pemujaan Tuhan Yang Mahakuasa. Alam atas itu disebut Sapta Loka yang divisualisasikan di tujuh lapis atau Mandala Pura Penataran Agung Besakih. Pusat palinggih di Pura Soring Ambal-Ambal adalah di Pura Merajan Selonding di
Pelinggih Gedong. Di Pelinggih Gedong di Merajan Selonding itulah disimpan segala pratima atau arca pemujaan semua pura yang tergolong Pura Soring Ambal-Ambal. Palinggih Gedong di Merajan Selonding inilah sebagai simbol sentralnya alam bawah. Sedangkan semua pratima, prasasti, dan sarana lainnya dan semua pura yang tergolong Luhuring Ambal-Ambal disimpan di palinggih Kehen yang ada di petak atau Mandala Ketiga Pura Penataran Agung Besakih. Palinggih Kehen ini berbentuk meru dengan atapnya tumpang tiga. Palinggih Kehen inilah simbol pusat alam atas atau Luhuring Ambal-Ambal.

Mengapa perlu ada dua kelompok pura di kompleks Pura Besakih? Hal ini menandakan bahwa ajaran Hindu tidak hanya menanamkan ajaran untuk percaya dan takwa pada keberadaan dan kemahakuasaan Tuhan. Tetapi lebih dari itu kepercayaan dan ketakwaan umat Hindu pada Tuhan harus didayagunakan untuk memahami keberadaan alam dan semua ciptaan-Nya untuk memajukan hidup dan kehidupan ini. Tuhan dipuja sebagai jiwa dan sumber alam bawah dan alam atas. Pemujaan itu untuk menghindari adanya keyakinan bahwa Tuhan hanya ber-stana di pura bahkan ada yang menduga Tuhan hanya ada di langit. Hal ini mungkin menyebabkan banyak orang yang berbuat seenaknya di bumi ini karena Tuhan hanya ada di langit; hanya kadang-kadang datang ke bumi.

Saat memuja memang disimbolkan Tuhan berstana di pura untuk memudahkan pelatihan untuk berkonsentrasi. Tetapi dalam filosofinya Tuhan itu ada di mana-mana. Dengan adanya keyakinan bahwa Tuhan ada di alam bawah dan alam atas itu umat manusia dapat juga memahami bahwa unsur-unsur alam itu dapat berfungsi karena ada Tuhan di alam tersebut. Magma yang merupakan sumber api di perut bumi itu sebagai unsur alam yang menyebabkan adanya kesuburan di bumi. Demikian juga Tuhan ada juga di tanah sehingga tanah menjadi sumber bahan makanan yang tidak habis-habisnya tentunya kalau hak asasi alam dari tanah itu tidak diganggu manusia. Karena itu memuja Tuhan sebagai dewa tanah untuk menanamkan pemahaman akan perlunya tanah dijaga agar tidak diganggu fungsinya dalam menciptakan bahan makanan. Karena itu Tuhan dipuja sebagai dewa tanah yang disebut Dewa Ananta Bhoga. Kata ananta bhoga berarti makanan yang tiada habis-habisnya. Tanah yang tidak diganggu kesuburannya oleh manusia akan mendatangkan bahan makanan yang tidak habis-habisnya.

Ada juga pura untuk memuja Tuhan sebagai dewa air ini untuk menanamkan pemahaman umat agar tidak merusak eksistensi air sebagai salah satu sumber kehidupan umat manusa. Syukurlah Tuhan menciptakan air. Tidak ada kehidupan tanpa air. Tuhan sebagai dewa air dipuja sebagai Sang Hyang Basuki. Basuki berarti rahayu atau selamat. Tanpa air tidak ada keselamatan.

Demikian juga, pura di Luhuring Ambal-Ambal ada yang disebut Pura Ulang Alu dan Pura Ratu Subandar. Hal ini untuk mengarahkan pada mereka yang melakukan usaha perdagangan dalam negeri dan luar negeri agar berdagang sesuai dengan norma-norma berdagang yang benar, baik dan bermoral; tidak menipu pe langgan, tidak memalsu barang baik kualitasnya maupun timbangannya.

Ada juga palinggih Widyadhara dan Widyadharii yang berarti Tuhan sebagai dewa ilmu pengetahuan. Demikianlah seterusnya bahwa adanya kelompok Pura Soring Ambal-Ambal dan Luhuring Ambal-Ambal sebagai simbol untuk menanamkan pemahaman bahwa Tuhan itu ada di mana-mana termasuk ada di langit maupun di bumi. Dengan demikian pemujaan Tuhan agar dapat didayagunakan untuk membangun moral luhur untuk menjaga kesucian bumi dan langit agar tidak terpolusi akibat perilaku negatif manusia.

PURA Besakih kini memang menjadi pusat perhatian serangkaian akan diselenggarakannya upacara Panca Bali Krama. Terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, pura ini berada di kaki Gunung Agung — di lereng barat daya pada ketinggian sekitar 1.000 meter dari permukaan laut.
Gunung Agung yang tingginya sekitar 3142 meter, gunung tertinggi di Bali, merupakan bagian penting yang tak terpisahkan dari keberadaan Pura Besakih. Berdasarkan catatan, Gunung Agung sudah pernah meletns beberapa kali — pada tahun 1089, 1143, 1189 dan 1963.


Perihal berdirinya Pura Besakih, berdasarkan catatan-catatan yang terdapat dalam prasasti logam maupun lontar-lontar, disebutkan pada mulanya merupakan bangunan pelinggih kecil yang kemudian diperbesar dan diperluas secara bertahap dalam tempo yang cukup lama. Dari sumber-sumber catatan itu diketahui bahwa pada permulaan abad ke-11 yaitu tahun 1007, Pura Besakih sudah ada.


Ketika itu masa pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042) dan Empu Kuturan menjadi senapati di Bali, yang berkedudukan di Silayukti, Padangbai, Kabupaten Karangasem. Empu Kuturan memperbesar dan memperluas Pura Besakih dengan membangun sejumlah pelinggih. Beberapa meru dibangun meniru bangunan di Jawa seperti yang ada sekarang.


Sumber lainnya menyebutkan, Maha Rsi Markandeya pindah bersama rombongan sebanyak sekitar 8.000 orang dan Gunung Raung di Jawa Timur ke Bali untuk menetap dan membuka tanah-tanah pertanian serta mendirikan Pura Besakih untuk tempat memo- hon keselamatan dan kesejahteraan dengan menanam panca datu.
Kemudian, pada masa benikutnya, zaman pemerintahan Shri Wira Kesari Warmadewa
sampai masa pemerintahan Dalem Waturenggong, Pura Besakih tetap mendapatkan pemeliharaan yang baik. Hampir semua pelinggih-nya diperbaiki, arealnya diperluas, bahkan oleh Dang Hyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh ditambah dengan pelinggih beruang tiga yang sekarang terdapat di Pura Penataran Agung Besakih pada sekitar abad ke-16, pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali.
Disebutkan, kata besakih berasal dari kata basuki yang berarti “selamat”. Kata ini berkembang menjadi basukir dan basukih, lalu menjadi besakih. Nama ini terdapat dalam dua prasasti yang disimpan di Gedong Penyimpenan di Natar Agung, sebuah prasasti di Merajan Selonding dan satu lagi di Pura Gaduh Sakti di Desa Selat.


Fungsi umum Pura Besakih adalah sebagai tempat bagi umat Hindu untuk memohon keselamatan. Pada waktu Bhatara Turun Kabeh yang jatuh pada setiap purnama sasih kedasa (sekitar Oktober) setiap tahunnya, seluruh umat Hindu datang berduyun-duyun untuk menyampaikan sujud baktinya pada Tuhan. Di pura ini juga diadakan upacara Panca Wali Krama setiap 10 tahun sekali dan yang terbesar adalah upacara Eka Dasa Ludra setiap 100 tahun sekali. Upacara Eka Dasa Ludra terakhir dilaksanakan pada 1979.


Dalam lontar Jaya Kesunu disebutkan Raja Sri Jayakesunu memerintahkan memasang penjor pada Hari Raya Galungan sebagai lambang Gunung Agung. Pada zaman Sri Kresna Kepakisan, seperti terdapat dalam lontar Raja Purana Besakth tentang upacara, nama pelinggih, tanah pelaba, susunan pengurus, hingga tingkatan upacara, diatur dengan baik.


Struktur Pura
Sampai saat ini, Pura Besakih tetap merupakan pura terbesar di Bali, merupakan pusat tempat ibadah bagi umat Hindu di Indonesia. Kelompok Pura Besakih terdiri atas 18 kompleks pura yang terletak di wilayah Desa Besakih dan satu terletak di Desa Sebudhi, Kecamatan Selat, Karangasem. Selain dari pura yang disebutkan berikut, masih banyak lagi Pura Pedharman yang menjadi penyiwaan warga-warga yang sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dengan Pura Agung Besakih itu sendiri. Berikut rincian pura-pura tersebut:


1. Pura Persimpangan
— Terletak di Desa Kedungdung, di tengah-tengah ladang sekitar 1,5 km, di Sebelah selatan Pura Penataran Agung. Di Pura ini terdapat 4 buah bangunan dan pelinggih. Fungsinya sebagai tempat pesimpangan sementara bhatara Besakih ketika diadakan upacara melasti (mencari toya ning) ke Toya Sah, ke Tegal Suci atau ke Batu Kiotok yang dilakukan tiap-tiap tahun.


2. Pura Dalem Puri
- Terletak di sebelah utara tikungan jalan terkahir, sebelum sampai di Desa Besakth sekitar 1 km di sebelah barat daya Pura Penataran Agung Besakih. Di pura ini terdapat 10 bangunan, termasuk pelin,ggih berbentuk gedong beratap ijuk. Fungsinya Sebagai linggih bhatari Uma dan Dewi Durga. Di Pura ini juga terdapat pelinggih Sang Hyang Prajapati sebagai penguasa roh manusia. Di Sebelah utara terdapat tanah lapang yang disebut Tegal Penangsar.

3. Pura Manik Mas — Terletak di pinggiran sebelah kin jalan menuju ke Pura Penataran Agung, jarakiiya sekitar 750 meter di sebelah selatan Penataran Agung. Di Pura ini terdapat 6 bangunan dan pelinggih, termasuk pelinggih pokoknya berbentuk gedung simpan, hertiang empat menghadap ke barat. Fungsinya sebagai linggih Ida Ratu Mas Melilit.


4. Pura Bangun Sakti — Terletak di sebelah kanan jalan menuju ke Penataran Agung dan di sebelah utara Pura Manik Mas. Di Pura ini terdapat ernpat bangunan dan peiinggih. Pelinggih pokoknya adalah Gedong Simpan sebagai linggih Sang Hyang Ananthaboga.


5. Pura Ulun Kulkul — Terletak sekitar 350 meter sebelah kiri jalan menuju Pura Penataran Agung. Di Pura ini terdapat tujuh bangunan danpelinggih. Pelinggih yang terpentingnya adalah Gedong Sari beratap ijuk sebagai iinggih Dewa Mahadewa. Pura ini adalah salah satu linggih Dewa Catur Loka Phala, yaitu manifestasi Sang Hyang Widhi yang menguasai arah barat. Warna perhiasaan atau busana di pura ini, pada waktu upacara, serba kuning.


6. Pura Merajan Selonding — Tenletak di Sebelah kiri Pura Penataran Agung, dengan lima bangunan danpelin,ggih. Di pura itu tersimpan prasasti dan sejumlah pratima, serta gamelan slonding. Menurut catatan sejarah, pura ini merupakan bekas bagian dan istana raja Sri Wira Dalem Kesari. Kini, pura ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka.


7. Pura Goa- Terletak di sebelah kanan jalan berhadapan dengan Pura Merajan Slonding. Di kompleks ini terdapat goa yang besar, tetapi bagian-bagiannya sudah banyak yang runtuh. Menurut kepercayaan rakyat, goa itu tembus ke Goa Lawah, di sebelah timur Kusamba, Sebagai goa untuk Sang Hyang Basuki. Di pura ini terdapat empat pelinggih.


8. Pura Banuwa— Terletak di sebelah kanan jalan di hadapan Pura Besakih, sekitar 50 meter dan Pura Penataran Agung. Dalam pura im terdapat empat bangunan dan pelinggih pemujaan pokoknya ditujukan kepada Dewi Sri. Setiap sasih kepitu atau sekitar Januari, di siii diadakan upacara Ngusaba Ngeed dan Ngusaba Buluh yang bertujuan mohon kemakmuran di sawah dan di ladang.


9. Pura Merajan Kanginan— Teretak di sebelah timur Pura Banuwa. Di pura ini terdapat tujuh bangunan dan pelinggih, di antaranya ada pelinggih untuk Empu Baradah.


10. Pura Hyang Aluh — Terletak di sebelah barat Pura Penataran Agung, herjarak sekitar 200 meter. Di dalamnya terdapat tujuh banguanan dan pelinggih. Pelinggih pokok pada pura ini berbentukgedong untuk linggih Ida Ratu Ayu.

11. Pura Basukihan — Letaknya di sebelah kanan tangga naik menuju Pura PenataranAgung. Di sun tendapat 10 bangunan dan pelinggih. Pelin,ggih pokoknya berbentuk meru dengan atapnya bertmgkat 9 sebagai linggih Sang Hyang Naga Basuki.

12. Pura Penataran Agung Besakih — Tenletak di tengah-tengah kelompok pura yang termasuk lingkungan Pura Besakih. Kompleks pura ini termasuk terbesar di Pura Besakth. Terdiri dan 7 tmgkat halaman denganjumlah bangunan dan pelinggih seluruhnya sebanyak 53 buah. Di sini terdapat meru yang besar-besar beratap tujuh tingkat 11, 9, 7, 5, dan 3. Pelinggih yang merupakan pemujaan pokoknya adalah Padma Tiga sebagai linggih Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya Sebagai Tn Purusa yaitu Ciwa, Sadha Ciwa dan Panama Ciwa yang sekaligus merupakan “poros” dan pura-pura yang lainnya.


13. Pura Batu Madeg — Terletak sekitar 150 meter di sebelah kanan (utara) Pura Penataran Agung. Pura ini adalah kompleks pura yang besar, dengan 29 bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknya berbentuk meru besar beratap ijuk beratap 11. Bangunan ini merupakan linggih Dewa Wisnu sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi, yang menguasai arah Sebelah utara. Warna busana di pura ini adalah serba hitam.


14. Pura Kiduling Kreteg — Terletak sekitar 300 meter di sebelah kiri (Selatan) Pura Penataran Agung, di atas suatu bukit. Di dalamnya ada 21 bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknya adalah meru besar beratap tingkat 11 sebagai linggih Dewa Brahma yaitu manifestasi dan Sang Hyang Widhi sebagai penguasa arah selatan. Kompleks pura ini merupakan kompleks yang besar, hampir sama besarnya dengan kompleks Pura Batu Madeg. Warna busana di pura ini merah.


15. Pura Gelap — Terletak sekitar 600 meter pada sebuah bukit sebelah timur Pura Penataran Agung. Di dalamnya terdapat enam bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknya adalah meru beratap 3 sebagai linggih Dewa Iswara — manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai penguasa anah sobelah timur. Warna busana di pura ini adalah serba putth.


16. Pura Peninjauan — Terletak sekitar 1 km di sebelah kanan Pura Penataran Agung, di dalamnya terdapat 12 bangunan dan pelinggih. Pelinggih pokoknyaberbentuk meruberatap tingkat 11, tem pat Empu Kuturan memohon restu kepada SangHyang Wicthi dalam rangka suatu upacara di Gunung Agung.


17. Pura Pengubengan — Letaknya 1,5km disebelah utara Pura PenataranAgung, di dalamnya ada enam bangunan dan pelinggih. Fungsinya sebagai tempat ngayat atau nubeng—suatu upacara permakiuman kepada Sang Hyang Widhi bahwa di Pura Penataran Agung akan dilangsungkan upacara. Pelinggih pokoknya berupa meru beratap tingkat 11.


18. PuraTirta — Letaknya sekitar 300 meter di Sebelah timur laut Pura Pengubengan. Di pura ini terdapat dua bangunan dan pelinggih, serta air suci (tirta). Jika ada upacara di kompleks Pura besakih, maka di pura inilah umat memohon tirta atau air suci.

19. Pura Pasar Agung — Letaknya di lereng Gunung Agung, melalui Desa Selat ke Desa Sebudi, lalu mendaki sekitar empat jam mendaki ke arah utara. Pelinggih-nya sernua hancur waktu Gunung Agung meletus pada 1963, dan menjelang karya Eka Dasa Rudra di Besakih telah mulai diperbaiki secara bertahap sarnpai sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar