Rabu, 16 Juni 2010

Pura Tugu - Gianyar

Pura Tugu yang berdiri di Desa Tegal Tugu, Keeamatan Gianyar adalah pura yang tergolong pura tua. Kapan persisnya pura itu dibangun belum ada kepastian sejarah. Yang jelas pura tersebut adalah Untuk memohon kesejahteraan di bhur loka, terutama samudera dan kesejahteraan pertanian. Hal ini dibuktikan dengan adanya pelinggih untuk Ida Batara di Segara dan Ida Batara di Ulun Suwi.

Hal itu pula mengingatkan pada adanya Samudra Kerti dan Danu Kerti sebagai unsur Sad Kerti. Pura Tugu pada awalnya untuk memuja Tuhan agar ada kemakmuran ekonomi pertanian melalui pemujaan Tuhan di Pelinggih Batara Segara dan di Pelinggih Batara Ulun Suwi. Pura Segara adalah pura yang konon sudah ada sebelum Mpu Kuturan mendampingi raja menata Bali. Tri Kahyangan Bali sebelumnya ada Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman adalah Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Pucak.

Tiga Kahyangan itu sebagai sarana untuk memuja Tuhan yang berada di Bhur Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka. Setelah Mpu Kuturan di Bali barulah ada pendirian Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman atas anjuran Mpu Kuturan. Pura ini tergolong pura yang pernah dikunjungi oleh Dang Hyang Dwijendra ketika beliau bertirthayatra di Bali. Sayang saat beliau berkunjung ke Desa Tegal Tugu, pemangku pura mewajibkan beliau menyembah tanpa sopan santun penghormatan pada tamu yang datang. Apa lagi yang datang itu adalah orang suci dan sakti.

Karena pemangku pura mewajibkan Dang Hyang Dwijendra menyembah di pura tersebut, maka beliau pun bersedia melakukan hal itu. Menyembah di pura tersebut pun dilakukan oleh Dang Hyang Dwijendra. Hal itu dilakukan semata-mata untuk mematuhi perintah pemangku. Bukan karena atas kehendak Dang Hyang Dwijendra. Hal itulah yang menyebabkan pelinggih di Pura Tugu itu akhirnya hancur karena Dang Hyang Dwijendra menyembah di pura tersebut tidak atas dorongan hati beliau.

Sesungguhnya dalam etika Hindu tidak tepat melakukan pemujaan di suatu pura manapun atas pemaksaan atau rayuan dari pihak lain. Lebih-lebih Dang Hyang Dwijendra adalah seorang pandita dwijati. Beliaulah yang sesungguhnya menentukan pemujaan tersebut bagaimana seyogianya dilakukan. Dang Hyang Dwijendra sudah mencapai berbagai persyaratan seorang pandita dan beliau sudah diyakini sebagai pandita sakti.

Mengapa Dang Hyang Dwijendra disebut pandita sakti, karena beliau memiliki banyak ilmu pengetahuan dan banyak pengalaman dalam mengamalkan ilmu yang dimiliki itu. Sakti menurut Wrehaspati Tattwa adalah mereka yang memiliki banyak ilmu dan banyak kerja berdasarkan ilmu yang dimiliki itu. Sebagai orang yang sakti dan suci, Dang Hyang Dwijendra tentunya tidak mudah terpancing oleh sikap yang arogan dan mana pun datangnya.

Beliau sudah tangguh (dira) dan sudah mampu mengatasi suka dan duka. Dipuji, disanjung maupun dihina bagi beliau diterima secara seimbang. Karena ciri seorang brahmana adalah memiliki sifat-sifat sama, dharma, papa, sauca, ksanti, arjawa, jnyanam, wijnyanam, dan astikyam sebagaimana dinyatakan dalam Sloka Bhagawad Gita yang dikutif di atas.

Sama artinya seimbang. Dalam Bhagawad Gita 11.15 ada dinyatakan sama duhka, sukha diram, artinya seimbang dan teguhlah menghadapi suka dan duka. Orang yang tidak terganggu oleh keadaan senang dan menderita akan mencapai kehidupan yang kekal abadi. Dang Hyang Dwijendra nampaknya sudah berada dalam keadaan seperti itu. Dengan demikian beliau tidak menolak ketika disuruh menyembah di Pura Tugu tersebut.

Dhama adalah orang yang mampu menasehati dirinya sendiri. Dalam Sarasamuscaya 57 dinyatakan: dama ngarania upasarna dening tuturnia. Artinya tenang dan sabar tahu menasehati dirinya sendiri. Tapa adalah orang yang tahan akan dinamika panasnya kehidupan ini. Dalam Sarasamuscaya 57 dinyatakan: tapa ngaranya carira sang cosana adalah mampu mengendalikan jasmaninya. Sauca adalah suci lahir dan batin. Ksanti selalu dalam keadaan tenang dan damai.

Arjawa adalah orang yang sangat jujur dalam Sarasamuscaya 63 ada dinyatakan sbb: arjawa, si duga-duga bener. Artinya orang yang benar-benar jujur. Knyanam adalah memiliki ilmu pengetahuan. Wijnyanam adalah bijaksana karena telah memiliki banyak menguasai ilmu pengetahuan. Astikyam sangat paham dan percaya pada ajaran suci Weda.

Demikianlah sembilan syarat yang dikemukakan oleh Bhagawad Gita XVIII.42 untuk menentukan untuk bisa disebut seorang brahmana. DangHyangDwijendra sepertinya sudah memenuhi sembilan syarat yang dinyatakan dalam Sloka Bhagawad Gita tersebut. Karena di Pura Tugu di Desa Tegal Tugu itu Dang Hyang Dwijendra di.stanakan thpelinggih yang berbentuk Candi diapit oleh Pelinggih Segara dan Pelinggih Ulun Suwi. Istilah candi umumnya digunakan sebagai bangunan suci di Pulau Jawa. Di Bali candi itu disebut Tugu. Karena itu pura tersebut Pura Tugu, maksudnya Pura Candi.

Pura Tugu itu sudah menjadi tempat pemujaan umum, dan semua kalangan dan seluruh Bali, terutama dan pratisentana Dang Hyang Dwijendra. Pemujaan tersebut hendaknya dilakukan untuk dapat menyerap nilai-nilai kebrahmanaan untuk dijadikan landasan moral dan mental dalam menapaki kehidupan ini. Lebih-lebih pada zaman post modern ini semakin dibutuhkan kekuatan moral dan mental sebagai dasar untuk menapaki kehidupan ini. Memperhatikan keberadaan pelinggih di Pura Tugu ini adalah untuk memuja Tuhan untuk membangun sifat-sifat kebrahmanaan untuk memelihara alam dan kehidupan bersama yang dinamis harmonis dan produktif untuk mengembangkan kehidupan yang sejahtera lahir batin.

Pura Barong Barongan

Pura Barong-Barongan. Unik memang, tetapi beginilah adanya. Pura Barong-Barongan merupakan salah satu jejak perjalanan DangHyang Nirartha yang berada di wilayah Badung Selatan, tepatnya di atas bukit Ungasan. Mengapa Pura ini disebut dengan Pura Barong-Barongan? SUARA angin menderu ditepi pantai menggambarkan betapa tenangnya suasana disekitar Pura Barong-Barongan ini. Perubahan cuaca yang begitu drastis dikawasan bukit ini memang membuat suasana menjadi lain di sekitar pura.

Dimana letak Pura ini?
Kalau kita berjalan menuju Banjar Sawangan, Desa Adat Peminge, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Tepatnya di Selatan areal Hotel Nikko Bali, atau keselatan dari hotel tersebut kita bakal menjumpai jalan kapur menuju pantai. Diareal inilah lokasi pura yang mempunyai sejarah panjang di Bali, dan tidak mungkin dilupakan oleh umat Hindu di daerah ini. Sebenarnya dulu, katanya sebuah sumber kepada MBA yang sempat metirtayatra ke pura ini. Pura Barong-Barongan bernama Pura Dalem Karang Boma. Mengapa diberikan nama Pura Dalem Karang Boma? Konon menurut lontar Dwijendra Tattwa, pura tersebut merupakan salah satu bagian dari napak tilas Danghyang Dwijendra di Bali. Ketika tiba di lokasi perbukitan yang menjorok ke laut, Danghyang Dwijendra kemudian menganugrahkan pasupati kepada anak didiknya.

Lantaran lokasi tersebut merupakan tempat memberikan pasupati, banyak sekali keajaiban yang dimiliki tempat itu. Sehingga mulailah terbangun sebuah pura. Pura tersebut awalnya bernama Pura Dalem Karang Mua. Karena pasupatinya itu bisa diistilahkan dengan segala sesuatu yang bermuka seram. Sehingga pura tersebut dikatakan sebagai Pura Karang Mua. Lama kelamaan pura ini akhirnya berubah nama menjadi Karang Boma. Selain itu ada beberapa hal yang mengakibatkan pura ini disebut Pura Barong-Barongan.
Yang memberikan nama Pura Barong-Barongan adalah para nelayan. Ceritera yang berkembang di masyarakat adalah ketika para nelayan berangkat menangkap ikan di laut, mereka melihat bahwa daratan yang menjorok ke laut dilihatnya menyerupai barong. Untuk itu nelayan akhirnya menandai tempat itu agar tidak tersesat dilaut. Batas daratan itulah yang dipakai tandanya. Saat itulah sebagian besar nelayan melihat bahwa ada pura yang dipakai tanda ketika turun kelaut. Dan karena pura tersebut bentuknya seperti barong, maka diberilah nama Barong-Barongan. Sederhana sekali.

Pura Barong-Barongan terdiri atas dua palebahan yaitu jaba sisi dan jaba tengah. Pura ini disungsung oleh berbagai komponen masyarakat. Selain itu ada beberapa tempat yang memohon pasupati ketapaknya masing-masing di pura Barong-Barongan. Misalnya Tapakan Barong dari Krama Sesetan Banjar Lantang Bejuh, Suci- Badung, Sidakarya, Pedungan, Bualu, Pagan, Kelandis dan sebagainya.
Yang mamedek di Pura ini dapat dibedakan menjadi tiga yaitu sebagai Pengemong, Pengempon dan Pemaksan. Sebagai pengemongnya adalah keluarga Jro Mangku Regig. Sementara iru sebagai pengemponnya adalah Pasek Gaduh, Pasek Kebayan serta Pasek Gelgel dan Pasek Denpasar. Sedangkan yang terakhir Pemaksan. Pemaksan ini adalah sejenis sekaa yang mempunyai tugas yang sama juga dengan yang lainnya, yakni menyelenggarakan upacara yadnya. Jumlah pemaksan di Pura Barong-Barongan tersebut adalah empat puluh empat orang. Piodalan Pura Barong-Barongan ini adalah pada Tumpek Landep. Bersamaan dengan piodalan pusaka. 

DIJAGA MONYET DAN KERIS EMAS LUK TELU
SEORANG krama Kecos yang berprofesi sebagai nelayan, saat ditemui MBA mengungkapkan Pura Barong-Barongan ini sangat angker. Dahulu, ketika Kecos masih senang ke laut, tiap malam hari banyak sekali krama nelayan kawehan. Ia melihat seolah-olah ada barong yang begitu saja muncul di Pura, melesat keatas dan menari-nari. Karena kejadian itu sering terjadi, akhirnya masyarakat nelayan setempat menyebut pura ini dengan nama Pura Barong-Barongan.

Kemudian bagi peminat spiritual, keanehan apapun yang terjadi di pura ini berasal dari kekuatan magis. Melihat situasi sekelilingnya, maka ada beberapa getaran yang mengakibatkan getaran wilayah tersebut menjadi sangat kuat. Selain berada ditepi tebing, Pura ini memang mempunyai daya tarik tersendiri. Sayangnya jalan menuju lokasi Pura ini kondisinya sangat memprihatinkan, padahal disebelahnya terdapat hotel berbintang yakni Hotel Nikko. Ketika tiba di lokasi Pura ternyata MBA merasakan getaran gaib yang luar biasa. Pada saat ditanyakan kepada Jro Mangku, ternyata getaran gaib itu berasal dari hasil pasupati yang sering dilihat oleh peminat spiritual seperti Keris Emas yang mempunyai luk tiga.

“Memang wilayah ini dulunya sangat angker. Akan tetapi saat ini keangkerannya itu hanya bisa dirasakan oleh orang tertentu saja. Hal itu diakibatkan kepercayaan masing- masing,” katanya. Suatu ketika ada beberapa orang penganut spiritual melakukan semadi di Pura ini. Pada saat semadi tubuhnya bergetar ia bisa melihat bahwa ada pusaka emas di depan matanya. Dengan penuh rasa bakti orang yang melakukan semadi tersebut langsung memohon keselamatan serta tidak akan melakukan hal yang negatif. Selain itu ada juga hewan yang sering menunggui areal Pura seperti kera. Kera tersebut memang sangat banyak disekliling pura. Akan tetapi tidak berani untuk mengganggu segala sesuatu yang ada disekitar pura. 

TEMPAT PASUPATI PUSAKA DAN NUNAS PAICA
MUNGKIN hanya sebagian kecil krama yang mengetahui fungsi Pura tersebut. Menurut Jro Mangku Regig fungsi Pura Barong-Barongan itu sudah jelas adalah untuk nunas pasupati. “Ida Bhatara di Pura Barong-Barongan ini sangat sueca. Apapun yang diminta masyarakat sebagian besar diberikan. Ida Bhatara yang melinggih di Pura Barong-Barongan ini adalah sebagai pengelingsir Ida Bhatara Ratu Ayu Manik Maketel. Sedangkan yang bertugas menjadi bendesa serta menguasai wilayah sekitarnya adalah Ida Bhatara di tempat ini adalah seorang wanita berpakaian putih. Karena telah putus (suci) maka segala sesuatu yang dibawanya itu selalu berkenaan dengan unsur kesucian.

Dengan rambutnya yang panjang, Ida Bhatara selalu memberikan peanugrahan kepada krama yang memerlukan. Seperti yang dikatakan di atas, Pura ini juga mempunyai fungsi untuk nunas paica sebagai balian. Sudah banyak krama yang ada di luar maupun sekitar tempat Pura berada nunas. Semua pinunas memang terkabul. Baik memohon agar bisa ngiwa, nengen (kanan) ataupun yang lainnya. jadi intinya adalah apabila ingin memohon keselamatan yang berkenaan dengan pasupati, baik nunas agar bisa ngiwa, agar bisa mengobati maupun yang lainnya, bisa memohon di pura ini. Sampai saat ini sudah banyak sekali balian yang sukses serta permohonannya dikabulkan. Pada saat piodalan berlangsung banyak sekali tapakan barong yang datang untuk menghadiri piodalan tersebut. 

NGIRING PEKAYUNAN (Jro Mangku Regig)
SEIRING dengan tugasnya sebagai pemangku di Pura Dalam Karang Boma (Pura Barong-Barongan), Jro Mangku mempunyai kiat tersendiri. Bagi pemangku yang mempunyai penampilan kalem dan tenang ini merasa bersyukur karena sampai saat ini ia sekeluarga selalu diberikan kebahagiaan.
“Tiang bersyukur karena apa yang menjadi harapan keluarga tetap terpenuhi.” katanya. Disisi lain meskipun banyak sekali hambatan yang ditemuinya, ia mengatakan dirinya berusaha semaksimal mungkin untuk ngiring pekayunan.

Jro Mangku yang telah mengabdi selama 5 tahun ini telah merasakan berbagai hal yang berkenaan dengan tugasnya sebagai pemangku. “sampai saat ini saya belum menemui hambatan berarti. Karena apapun yang tiang lakukan adalah pengabdian sebagai manusia,” akunya. Ketika ditanya ia mengaku teringat kembali pada masa upacara padudusan tahun 1994, dimana saat itu untuk pertama kalinya dia diangkat sebagai pemangku. “Keluarga tiang memang keturunan mangku di pura ini. Akan tetapi kesan yang mendalam memang tiang dapatkan ketika diangkat menjadi pemangku,” katanya.

Ia merasakan bahwa ketika diangkat menjadi pemangku ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukannya. Penyesuaian tersebut baginya memang gampang-gampang susah. Pemangku yang berasal dari Banjar Sawangan ini sangat tabah dan tekun melakukan aktivitas tapa brata dan semadi. Akhirnya dengan usaha yang dilakukannya dengan tekun, iapun berhasil menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Sampai saat ini Jro Mangku merasa aktivitas kesehariannya tidak terganggu oleh tugasnya sebagai pemangku. Selain mendapat cobaan yang berat dalam menyesuaikan diri, ia juga merasa bangga karena senantiasa bisa mendekatkan diri dengan Ida Bhatara. “Yang paling pokok adalah bagaimana tiang bisa membantu umat dalam menyampaikan keinginannya di pura itu,” katanya. Disisi lain, Jro Mangku juga merasa berkewajiban untuk membantu masyarakat yang menemui kesulitan yang berarti bagi kehidupannya
PURA PULAKI ini berdekatan dengan Pura Dalem Melanting yakni pantai utara Pulau Bali, termasuk Desa Banyupoh, Kecamatan Grokgak, Kabupaten Buleleng. Pura atau Khayangan ini disamping sebagai tempat suci untuk memuliakan dan memuja Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam perwujudannya (manifestasi)-Nya. Pura ini juga sebagai tempat memuliakan dan memuja arwah suci dari Sri Patni Kaniten- salah seorang istri dari Danghyang Nirartha yang diberi gelar “Bhatari Dalem Ketut”. Pembangunan Pura Pulaki ini ada kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha seperti halnya Pura Dalem Melanting. Di dalam Dwijendra Tattwa mengenai asal mula berdirinya pura atau khyangan pulaki disebutkan: Pada waktu itu istri Danghyang Nirartha Sri Patni Kaniten yang berasal dari Blambangan bergelar Mpu Istri Ktut dalam keadaan payah menyembah Danghyang Nirartha dan berkata, “Mpu Danghyang, dinda tidak kuasa lagi melanjutkan perjalanan dan rasanya ajal hamba sudah tiba, karena itu ijinkanlah dinda sampai disini saja mengiringi Mpu Danghyang.

Dengan hormat serta kerenahan hati yang tulus iklas dinda mohon agar diberikan ajaran ilmu gaib sebagaimana yang sudah diberikan kepada anakda Ni Ayu Swabhawa, agar adinda dapat terlepas dari segala dosa dan kembali menjadi Dewa,” demikian permohonan Mpu Isteri Ktut. Danghyang Nirartha lalu menjawab, “baiklah kalau demikian, dinda diam disini saja bersama-sama dengan puteri kita Ni Ayu Swabhawa, ia sudah suci menjadi Bhatari Dalem Melanting, dan adinda boleh menjadi “Bhatari Dalem Ktut” yang akan menjadi junjungan dan disembah orang-orang desa disini. Desa bersama orang-orang yang ada disini akan kanda “Pralina” (hanguskan), sehingga tidak dapat lagi dilihat oleh manusia biasa dan semua orang-orangnya menjadi orang halus (wong gamang) namanya orang “Sumedang”, sedang daerah desa ini kemudian bernama “Mpu Laki”, demikian kata Danghyang Nirartha.

Setelah itu menggaiblah Mpu Isteri Ktut dan tidak dapat dilihat manusia lagi, dan kemudian Danghyang Nirartha bersama putra-putrinya meneruskan perjalanannya dengan tujuan Gelgel untuk bertemu dengan Dalem Gelgel Sri Waturenggong yang bertahta dan memerintah di Bali. Dalam perjalanannya ini Danghyang Nirartha pertama tiba di Desa Gadingwani, dan oleh orang desa Gadingwani Danghyang Nirartha dimohon agar berkenan untuk sementara waktu tinggal di desa Gadingwani untuk mohon pengobatan, berhubung desa Gadingwani sedang diserang wabah penyakit sehingga banyak rang-orang desa menderita sakit, dan malahan tidak sedikit sudah menemui ajal sebagai korban penyakit yang sedang berkecamuk itu..dan seterusnya.

Begitulah di tempat moksa (menggaibnya) Sri Patni Kaniten atau Mpu Isteri Ktut itu kemudian dibangun sebuah bangunan suci (Pura atau Khayangan) yang diberi nama Pura Pulaki sebagai tempat memuliakan dan memuja Hyang Widhi Wasa. Selain itu disini dimuliakan yaitu Sri Patni Kaniten atau Mpu Isteri Ktut. *patra dari berbagai sumber

JAGA KESUCIAN PURA
PURA Pulaki terletak di Desa Banyupoh, Kecamatan Grokgak, Buleleng. Penyungsung pura atau pengemponnya terdiri atas desa-desa yang ada di Grokgak dan Seririt. Dari kedua Kecamatan ini ada 42 Desa adat atau Subak sebagai pengempon utamanya. Pura Pulaki yang pujawalinya jatuh pada Purnama Kapat ini tetap harus dijaga kesuciannya. Pasalnya di Pura ini ada tempat yang disebut dengan Utamaning Mandala yang sama sekali tidak boleh dinaiki oleh orang sembarangan, mengingat tempat ini boleh dibilang teramat disucikan. Jangan krama pamedek yang boleh kesana (pelinggih utama-red) tiang sebagai pemangku saja tidak dibolehkan menginjak tempat itu.

Dan ini harus ada sejenis upacara tertentu untuk bisa ke pelinggih utama itu. Di pelinggih bawah ada dua pelinggih sebagai penyawangnya. Dari sanalah umat ngaturang bhakti dan menghaturkan sarana upakara, ucap Jro Mangku Mas. Dikatakan karena sangat disucikan pelinggih utama itu, maka harus bebas dari cakar atau “injakan kaki”, ini semata-mata untuk menjaga kesucian pura. Jro Mangku pun kurang tahu sejarah persisnya mengapa tidak boleh naik keatas.

Tapi kalau ada upacara besar seperti “ngeteg linggih” di pura baru dibolehkan naik ke atas yakni ke pelinggih utama itu, katanya. Disamping ada persyaratan tidak boleh munggah keatas, terutama utama mandala, juga pamedek disarankan sangat hati-hati dengan kera atau monyet yang berkeliaran disana. Bojog ini sangat nakalnya, sehingga setiap krama pamedek yang kurang hati-hati jangan harap tasnya atau sandalnya dan sarana upakaranya bisa selamat. Setiap bawaan tidak boleh lengah membawanya, karena setiap saat kera ini siap menyambar bawaan pamedek. Ditanya mengapa kera ini sangat licik dan menyambar bawaan pamedek? Dengan enteng Jro Mangku mengatakan, cuma karena lapar saja, karena tidak ada yang mengurusnya. Tapi Jro Mangku hanya bisa menyarankan saja, setiap bawaan dijaga dengan waspada. Karena upakara yang masih suklapun akan siap disambar oleh monyet yang nakal itu.

Kadang-kadang Monyet itu sempat melawan bila kita mau menghalaunya. Banyak pamedek yang takut oleh ulah monyet ini, katanya menambahkan. Sampai saat ini belum diketahui mengapa bojog yang berada didaerah ini begitu beringas terhadap manusia, padahal dulu tidak begitu, jelas I Wayan Natha salah seorang krama di Pura Pulaki. Banyak yang memperkirakan kebringasan bojog ini terhadap manusia, tidak tertutup kemungkinan karena semakin berkurangnya makanan yang ada disekitarnya. Dulu, bojog-bojog itu mencari makanan di hutan disekitar tempat itu, sekarang hutannya sudah tidak ada. Otomatis bojog hanya mengandalkan makanan yang diberikan pamedek dan umat yang kebetulan sembahyang ke pura. Tetapi semua ini masih tetap dalam perkiraan sementara. 

NGAYAH, KASISIPAN IDA BHATARA
NGAYAH disuatu tempat atau pura, tidak sembarang orang dapat melakukannya. Dalam perjalanan hidup seseorang sering ada pekerjaan yang disebut dengan ngayah. Ngayah berarti melakukan pekerjaan “tanpa mengharapkan hasil”, Dan semuanya harus berdasarkan ketulus iklasan. Begitu juga dialami Jro Mangku Mas, krama asal Brengbeng, Celukan Bawang ini, ketika dihubungi MBA di Pura Pulaki. Dalam hatinya sama sekali tidak terpikirkan untuk ngayah disebuah pura walaupun secara garis keturunan memang sentana pemangku, ujarnya.

Tapi karena tiang tahu yang namanya ngayah pekerjaan berat, paparnya lagi. Tak diduga toh takdir sulit tiang tolak, pasalnya ada sebuah “perintah” yang mengharuskan mau sebagai pengayah. Dalam usia yang telah menginjak 45 tahun Jro Mangku Mas memang masih tampak muda dan penuh semangat. Kegiatan ngayahnya diawali dengan sebuah peristiwa yang terjadi di tahun 1995. Saat itu, katanya mengenang masa lalunya, tiba-tiba rasanya ada sakit yang tidak beres dihati. Sebagai krama Bali tiang yakin sebuah penderitaan yang namanya sakit pasti bisa disembuhkan. Apalagi sakitnya tidak begitu kronis, celotehnya. Berbagai cara sudah tiang upayakan misalnya berobat ke berbagai dokter, semuanya ini tidak menyelesaikan masalah. Payah berobat melalui medis, tiang alihkan saja keberbagai balian. Tapi usaha balian juga tidak ada perubahan. Sakit semakin membandel saja, seolah-olah tidak mau pergi dari badannya. Sehingga tiang menjadi bingung dan ragu. Lebih ragu lagi mau kemana dibawa sakit yang membandel ini. Berdasarkan berbagai mimpi yang telah dialaminya, lantas diputuskannya membawa diri ke seorang dukun yang mumpuni yang berada jauh di Nusa. Oh Tuhan, ternyata jodoh terkuaknya sebuah sakit misterius ini ada pada dukun atau balian dari Nusa tanpa disebutkan namanya. Dari balian ini tiang diharapkan memakai sarana asep (dupa) sebagai terapinya, pasalnya sakit yang dibawa Jro Mangku Mas ini bukanlah penyakit yang mudah disembuhkan. Karena penyakit ini adalah sisipan dari Ida Bhatara tempat leluhurnya ngayah. Balian dari Nusa ini menyarankan, Jro Mangku Mas ngamel dengan sebuah dupa. Dupa itu diletakkan ditempat tidurnya. karena dupa itu sebagai terapi sebagai kesembuhan dirinya, ucap Sang Balian seperti ditirukan Jro Mangku Mas. Akhirnya tanpa diduga, penyakitnya berangsur-angsur hilang. Betapa senangnya hati Jro Mangku Mas saat itu.

Begitu sembuh tahun 1995 dirinya disarankan Balian dari Nusa itu untuk ngayah. Dan jadilah dia Pemangku di Pura Sad Khayangan Pulaki yang merupakan sungsungan Jagat Bali di Bali, sejak saat itu Jro Mangku Mas mulai melaksanakan tugas-tugas kepemangkuan, apakah mabersih-bersih ataukah melayani umat yang bakal pedek tangkil ke pura. Pekerjaan ini dilakukannya dengan tulus iklas, tanpa pamerih.

JRO MANGKU MAS: TIDAK PUNYA OBSESI
DITANYA Obsesinya ngayah sebagai Juru Sapuh dengan jujur Jro Mangku Mas mengungkapkan. Sebenarnya ngayah itu adalah sebuah profesi, kalau sudah menyangkut profesi, otomatis pekerjaan yang dilakukan harus berdasarkan kesenangan hati, tanpa berfikir banyak untung ruginya. Begitu juga dengan tugas tiang sebagai seorang pemangku, katanya sambil tersenyum bangga. Bagaimana sebagai pemangku ini merupakan profesi yang sangat membanggakan. Soalnya ini semua amanat yang diberikan Tuhan kepada kita.
Kembali ke soal untung rugi sebagai seorang pemangku, Jro Mangku Mas menjelaskan, kalau sudah ngayah di tempat suci seperti pura kita tidak boleh terlalu berharap, karena masalah pamerih atau hasil seluruhnya tergantung dari Sang Pencipta. Yang jelas, sebagai Pemangku cuma satu yang tiang minta, “Mogi-mogi Hyang Pramakawi asung suweca ring padewekan tiang keluarga, umat Hindu dan umat manusia yang ada di Mercapada. Inilah yang tiang harapkan. Harta ini tidak dapat diukur dengan uang seberapapun jumlahnya. uang bukan jaminan untuk membahagiakan umat manusia. kalau kita sudah mendapat keselamatan apapun yang akan dicari kemungkinan akan tercapai.

Tinggal kita berusaha menunggu hasilnya sesuai dengan karma kita masing-masing, tukas Jro Mangku dengan penuh harapan. Harapan untuk hidup selamat adalah dambaan umat manusia tanpa terkecuali. Ketika ditanya apa yang sudah didapatkan selama menjadi seorang pemangku. Jro Mangku Mas enggan menjelaskan lebih detail, seakan ada sesuatu yang dirahasiakan. Walaupun begitu Jro Mangku Mas tetap tampil ramah apa adanya, seakan-akan tidak ada beban dalam dirinya. Tampil bersahaja merupakan gaya khas Jro Mangku Mas, karena itu dia selalu merasa dekat dengan umat yang tangkil ke pura. Sedapat mungkin tiang bakal melayani umat dengan baik, katanya enteng

Pura Kertha Kawat

Pura Kertha Kawat. Para pejabat atau orang yang hendak meraih jabatan, sepatutnya tak lupa tangkil ke Pura Kertha Kawat. Ida Batara I Dewa Mentang Yuda atau lumrah disebut Ida Batara Hakim Agung yang berstana di sini diyakini mampu memberi kasukertan jagat.

Bila Anda menyebut nama pura di Buleleng, Pura Pulaki jelas tak pernah terlupakan. Pura yang berlokasi Buleleng Barat ini, memang dikenal sebagai satu pura yang kerap disinggahi orang-orang, lebih-lebih yang melintasi di pinggir pantai jalur Jalan Raya Gerokgak–Gilimanuk, sebelum sampai mereka seolah-olah wajib berhenti sejenak di depan Pura Pulaki. Di tempat suci berkategori dang kahyangan ini, sesuai Purana Pulaki terkait dengan perjalanan Danghyang Dwijendra yang di Bali juga berjuluk Padanda Sakti Wawu Rauh, rohaniwan dari Jawa Timur, di tanah Bali abad ke-16, mereka mencakupkan tangan, mohon pada Hyang Mahadewi penguasa di Pura Pulaki supaya diberikan keselamatan dalam perjalanan. Lazimnya pura sad kahyangan, dang kahyangan , maupun kahyangan jagat lain, maka Pura Pulaki juga memiliki beberapa pura pasanakan (kerabat). Lokasinya berada di empat arah mata angin. Satu di antaranya Pura Kertha Kawat yang berlokasi di Banjar Kertha Kawat, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Berjarak kurang lebih satu kilometer dari Jalan Raya Gerokgak-Gilimanuk.

Sekitar dua kilometer arah tenggara Pura Agung Pulaki. Sama halnya dengan Pura Pulaki, tempat suci yang berlokasi di tengah tegalan, pada kaki bebukitan nan menjulang ini juga dikenal sebagai peninggalan Danghyang Dwijendra. Sesuai tersurat dalam buku Purana Pura Pulaki yang diterbitkan Dinas Kebudayaan Propinsi Bali pada 10 Oktober 2003, Pura Kertha Kawat posisinya berada di sisi timur sebagai stana Batara I Dewa Mentang Yuda atau Batara Ngertanin Jagat kini lumrah disebut Ida Batara Hakim Agung. Sebagai tempat berstana Ida Batara Ngertanin Jagat, tentu manifestasi Tuhan yang berstana di Kertha Kawat mampu memberi kesejahteraan dan keadilan pada masyarakat.

Kepercayaan itu pula yang mendasari hingga banyak orang datang ke Pura Kertha Kawat. Di Bali, pun berbagai daerah lainnya di Indonesia, seseorang yang hendak meraih jabatan dan menunaikan tugas setelah menjabat di pemerintahan maupun swasta, mereka merasa tak cukup percaya mengandalkan kemampuan diri. Berbekal keahlian semata. Guna lebih memantapkan langkah dalam mencapai tujuan, kerap pula menempuh jalan niskala . Memohon berkah, petunjuk, dan bimbingan dari Hyang Mahaagung. Mereka berkeyakinan beberapa tempat suci, di antaranya Pura Kertha Kawat, dirasakan cocok sebagai tempat memohon berkah seperti itu. Dalam cermat Pamangku Pura Kerta Kawat, Ida Bagus Putu Darmika, hampir saban hari ada yang bersujud ke hadapan penguasa Pura Kertha Kawat. Terlebih saat transportasi darat bertambah lancar, kapasitas warga Hindu yang datang semakin melonjak.

Penangkilan bukan saja dari daerah Bali Utara (Buleleng-red). Tak sedikit pula berasal dari berbagai wilayah di Bali Selatan dan Bali Tengah. “ Pamedek dari luar Bali juga ada,” tunjuk rohaniwan yang akrab disapa Ratu Aji Mangku ini. Warga yang tangkil ke Kertha Kawat memang tak semata-mata untuk mempertahankan jabatan atau meraih posisi penting di pemerintahan. Banyak pula yang sekadar mohon keselamatan dari Ida Batara Hakim Agung. “Saya tak terlalu banyak tahu prihal pura ini,” Ida Bagus Darmika mengakui.

Tapi dosen pengajar di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar ini mencermat, Kertha Kawat beserta pasanakan Pura Agung Pulaki, lebih teridentifikasi sebagai pura fungsional. Artinya disesuaikan dengan profesi dan fungsi masing-masing. Pura Melanting misalkan, di samping pamedek umum, diyakini pula sebagai satu tempat suci yang mampu mendatangkan rezeki bagi pedagang. Maka, orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang, pebisnis, dan penjual jasa banyak tangkil ke pura ini. “Begitu pula yang saya amati dengan Pura Kertha Kawat,” peneliti beberapa pura ini menegaskan. Masih sedikit sumber yang menyebutkan keberadaan Pura Kerta Kawat, memang. Pun data dari masyarakat pangempon, Kertha Kawat di- empon warga desa pakraman se-Kecamatan Seririt dan Gerokgak, tepatnya yang berdiam dari sebelah timur Cekik (Jembrana) dan sebelah barat Tukad Saba, tiada banyak bisa dijelaskan.

Mereka hanya tahu bertanggung jawab terhadap segala kegiatan di Pura kerta Kawat dan pasanakan Pura Agung Pulaki lain, seperti terhadap penyelenggaraan piodalan yang dilaksanakan bersamaan dengan Pura Agung Pulaki, selama tujuh hari. Bedanya, puncak karya dilakukan secara berjenjang. Karya bertepatan dengan Purnama Kapat (September-Oktober). Piodalan di pura pasanakan, termasuk di Kerta Kawat, mengikuti upacara di Pulaki, dilakukan dua hari setelah Puranama Kapat, pada pangelong ping kalih . Pada Purnama Kapat puncak karya di Pura Pulaki, keesokan harinya di Pura Melanting, hari kedua di Kerta Kawat, panglong ping tiga puncak piodalan di Pemuteran, dan terakhir di Pura Pabean. “Bangunan suci di sini tak terlalu banyak,” Ratu Aji Mangku mengingatkan. Gedong yang berada di tengah-tengah merupakan palinggih pokok di Pura Kerta Kawat. Di sini berstana Ida Batara Hakim Agung atau Batara Ngertaning Jagat. Kemudian ada padmasana sebagai stana Ida Batara Luhuring Akasa. Di samping kanan kiri gedong ada palinggih bale sidang yang diyakini warga sebagai tempat menggelar sidang.

Pura Rambut Petung

Pura Rambut Petung terletak di Desa Pakraman Pesedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem dipercaya se- bagai pura Kahyangan Jagat stana Batara/Dewa Sangkara. Masyarakat setempat percaya guna mohon per- lindungan agar terhindar dari marabahaya, menggelar persembahyangan mengayu-ayu. Seperti menghindari usaha peternakan ayam dari wabah flu burung, digelar mengayu-ayu, tirtha dimohon dari pura ini lalu dipercik kan ke pekarangan dan lokasi kandang peternakan.
 
Selama ini selain pangempon utama krama Desa Pakraman Pesedahan, juga pura setempat disungsung dari krama di desa sekitarnya seperti Tenganan Dauh Tukad, Sengkidu termasuk Nyuh Tebel dan sekitarnya. Klian Desa Pakraman Pasedahan Nyoman Wage, S.H. belum lama ini di desa setempat mengatakan, pura ini sudah diketahui keberadaannya tahun 1021. Hal itu dapat dibuktikan dari prasasti dan teks yang diterjemahkan dari Leiden, Belanda baru diperoleh 1985.

Dulu raja Bali yang berpusat di Gelgel, Klungkung ketika masa pemerintahan Ida Dalem Pasuruan, mengutus I Gusti Ngurah Tenganan serta empat pengiring dan pasukannya menjaga dan mapekeling (mengingatkan) kepada raja dan menggelar upacara di pura yang berlokasi di pebumian Pesedahan. Mereka kini dipercaya sebagai leluhur krama Pesedahan. Pura ini berlokasi di kaki Bukit Dulun Petung.

Disebutkan, setelah Dukuh De Mangku kalah perang dalam peperangan yang berkecamuk sekitar enam bulan, I Gusti Ngurah Tenganan menemukan tiga KK krama yang masih ada. Dengan jumlah krama yang terbatas, dirasakan tak cukup membentuk desa pakraman. Lantas dimohonkan krama kepada Raja Karangasem dan mereka ditempatkan di mel kelod (di selatan pusat desa) yang kini diperkirakan Banjar Karanganyar. Mereka itu diperkirakan berasal dari Subagan, Seraya, Perasi dan Macang.

Sampai kini, diketahui dua kali upacara besar yakni 100 tahun lalu, serta terakhir karya ngenteg linggih, nubung padagingan tahun 2005. Hal itu melihat dari kemampuan krama panyungsung.
Karya tahun 2005 itu disaksikan keturunan raja atau keluarga Puri Karangasem seperti AAB Ngurah Agung serta Cokorda Klungkung. Itu upacara yang berdasarkan petunjuk dari lontar yang ada. Sementara pujawali rutin tiap enam bulan saat Umanis Galungan. ‘Ketika itu dari Tenganan Dauh Tukad mengaturkan wewalian berupa gambang,’ ujar Wage.

Dikatakan, penyungsung pura itu kini lebih dari 500 KK. Pamangku di pura ini yakni Mangku Gede Nengah Sujati dan Mangku Ayu Nengah Supadmi. Sementara saat pujawali atau karya besar dibantu paguyuban pemangku di Pesedahan yakni 32 orang, terdiri atas para pemangku kahyangan desa, pemaksan dan dadia.
Di mana menjelang aci sambah, kata Wage, di Desa Tenganan Dauh Tukad atau Sengkidu, biasanya mendak tirtha di Pura Rambut Petung. Di pura ini dipercaya sebagai Stana Dewa/Batara Sangkara serta di kalangan krama penyungsung setempat dimanifestasikan Batara Gede Lingsir Rambut Petung.

Di antara sekian bangunan/pelinggih, terdapat Meru Tumpang Siya (sembilan) di kanan dan kiri ada Pelinggih Gaduh, tiga buah Padmasana masing-masing dua menghadap ke selatan dan satu ke barat.
Ada juga Gedong Sari, pelinggih putra-putri seperti Pelinggih Batara Ayu, Pelinggih Batara Segara, Batara Majapahit. Dibuatkan juga Pelinggih Batara di Sengkidu dan Mendira ketika tangkil ke ajine di Pura Ramput Petung.

Mohon Kesejahteraan
Wage mengatakan, sejumlah tokoh pernah tangkil dan mendapat panugerahan atau paica. Pamedek dari Lombok juga pernah ngaturang pakemit di pura ini. Selain itu, masyarakat Pesedahan dan sekitarnya mempercayai mohon perlindungan dan kesejahteraan akan terkabul. Ini terbukti, saat wabah flu burung atau gerubug ayam di daerah lain dan luar Bali, pengusaha peternakan ayam ras di Pesedahan tak sampai rugi besar. Bahkan bisa dibilang terhindar dari kematian massal akibat wabah.

Saat menangkal gerubug ayam, peternak menggelar upacara mengayu-ayu, mohon tirtha perlindungan dan air suci itu dipercikkan di rumah, keluarga dan sekitar areal usaha peternakan. Puluhan usaha peternakan ayam ras dari skala besar dan kecil merupakan andalan masyarakat Pesedahan dalam menghidupkan perekonomian krama-nya.
Saat puwajali, kata Wage, pamedek berdatangan dari luar desa seperti Selumbung, Padangkerta, Perasi dan Subagan Amlapura. Saat itu areal parkir tak memadai. Kini pangempon pura setempat merencanakan memugar panyengker keliling 225 meter dengan rencana anggaran sekitar Rp 500 juta.

Kahyangan Jagat
Pura ini oleh prajuru setempat diyakini sebagi kahyangan jagat. Hal itu termuat dalam Lontar Mpu Kuturan dan Lontar Padma Buana. Dalam Lontar Mpu Kuturan disebutkan dengan terjemahan (dikutip dari Proposal Pembangunan Penyengker Pura Kahyangan Jagat Rambut Petung Desa Pakraman Pesedahan).
Di sana juga dijelaskan, tata cara melakukan persembahyangan bagi sang tri wangsa utama, brahmana, ksatria ratu yang boleh disembahnya Batara di sad kahyangan yang dibangun oleh brahmana dahulu, ksatria ratu beserta para menteri, wesya, sudra, yaitu Batara Giri Jagatnata, Batara Siwa Raditya, Batara Brahma, Wisnu, Iswara, stana Batara Siwa, Sadha Siwa, Parama Siwa dan Rambut Basukih, Erjeruk, Uluwatu, Watukaru, Pakendungan, Gowa Lawah, Rambut Petung, Tampakhyang, Sakenan, Panataran, itu sama-sama boleh disembah olehnya di samping juga menyembah leluhur yang sudah memasuki alam dewata dari sejak dulu, keturunan dari Batara Dwijendra, yang demikian itu tidaklah menyebabkan dosa baginya.

Sementara dalam Lontar Padma Buana disebutkan dengan terjemahan, keterangannya, sad winayaka (kelompok enam dewa) dinamai sad kahyangan sthana batara berbentuk padma di bumi, di Pulau Bali disungsung oleh Sang Bhuta Berdua. Selanjutnya tempat Batara Berdua menetap, inti padma di bumi bagaikan dasarnya alam, maka didirikan empat pura, maka itu genaplah sad kahyangan di Pulau Bali, juga berasal dari perhitungan Panca Brahma dalam batin sebagai berikut.

Sang yaitu sadya, aksobhya, Iswara jugalah dia arahnya di timur, letaknya di Pura Gunung Tampakhyang. Bang atau bhamadewa, ratnasambhawa, Brahma jugalah dia arahnya di selatan, letak puranya di Gunung Andakasa. Tang yaitu tat purusa, amittaba, Mahadewa juga dia arahnya di barat, letak puranya di Gunung Watukaru. Ang yaitu aghosa, amoghasidi, Wisnu jugalah dia, arahnya di utara letak puranya di Pura Gunung Pagadungan Tungtung.

Ing yaitu Isana, Siwa Wairocana letak puranya di tengah menjadi Batara Pratiwi bagaikan dasar berstana di Dalem Puri lalu dibuatkan pura sebagai sudut-menyudut berasal dari perhitungan pancaaksara yaitu. Nang, Maheswara terletak di tenggara berstana di Gowa Lawah. Mang, Ludra terletak di barat daya berstana di Pejeng. Sing, Sangkara di barat lfsaut letaknya di Rambut Petung.

Pura Dalem Mangening

Pura Dalem Mangening.
NAMA niskala Desa Pakraman Renon adalah Dalem Lumajang Dang Hyang Nirartha ketika tirthayatra ke Bali sempat singgah ke Desa Dalem Lumajang. Dang Hyang Nirartha amat berkesan dan beliau amat senang tinggal dan menyaksikan Desa Dalem Lumajang tersebut. Demikian dikatakan Jero Mangku Sudita, Penyarik an Paiketan Pemangku Desa Pakraman Renon. Lalu keunikan apa saja yang dimiliki Pura Dalem Mangening tersebut?


“Senang” dan “terkesan” itu dalam bahasa Bali disebut Rena. Dan kata “rena” inilah lama kelamaan disebut Renon. Keberadaan Pura Dalem Mangening ini pun, menurut Jero Mangku Majawan, ada kaitannya dengan kedatangan Dang Hyang Nirartha ke Bali yang juga pernah datang ke Renon ini. Pura Dalem Mangening sebagai pangawangan Pura Semeru Agung di Lumajang, Jawa Timur memiliki upacara piodalan tersendiri. Saat ada upacara piodalan di Pura Semeru Agung pada Purnamaning Sasih Kasa, di Pura Dalem Mangening juga diadakan Batara Nyejer selama upacara piodalan di Semeru Agung. Umat yang tidak sempat ke Semeru Agung dapat juga bhakti nyawang dan Pura Dalem Mangening, karena Ada pelinggih panyawangan untuk Ida Batara di Semeru Agung di Lumajang, Jawa Timur.

Khusus upacara piodalan di Pura Dalem Mangening dilakukan pada han Banyupinaruh sehari setelah han raya Saraswati. Jero Mangku Dalem Mangening menyatakan pelaksanaan upacara piodalan pada saat Banyupinaruh karena memang sudah demikian dilakukan sejak dahulu sebelum Jero Mangku Majawan sebagai jan banggul Ida Batara di Pura Dalem Mangening.Yang cukup menarik adalah sebutan Tuhan sebagai Ida Batara Dalem Mangening yang upacara piodalannya pada hari Banyupinaruh. Tirtha Ening yang didapat dengan melalui proses nunas di Pura Dalem Mangening memiliki nilai sakral yang tidak sebatas berarti air cuci. Istilah sakral Mangening dan Banyupinaruh itu memiliki korelasi yang amat dalam dan luas artinya bagi kehidupan umat Hindu di Bali.

Mangening berasal dan kata “maha ening”. Kalau air itu maha ening di suatu tempat, maka apa pun akan amat jernih kelihatannya di dasar air tersebut. Air yang jernih itu dalam konsep Hindu disimbolkan sebagai air kehidupan manusia. Karena itu air suci itu dalam nyasa Hindu disebut Tirtha Amerta yang artinya air kehidupan. Memang dalam berbagai pustaka suci Hindu air itulah sebagai sumber hidupnya semua makhluk hidup di bumi i. Sumur sakral di Pura Dalem Mangening ini di samping digunakan Sebagai wangsuhpada dan Ida Batara dapat juga digunakan sebagai Tirtha Pengelukatan. Untuk Ti rt ha Pengelukatan ini Jero Mangku mendapatkan petunjuk niskala agar Tirtha Ening di sumur di jeroan pura itu dialirkan di jaba sisi. Hal itu dimaksudkan agar umat yang pedek tangkil ke pura terlebth dahulu mohon Tirtha Pengelukatan di jaba sisi pura.

Dalam konsep Hindu di Bali Ti rt ha Pengelukatan itu adalah sewanya Batara Gana. Batara Gana itu disebut Wighna-ghna Dewa dan Dewa Winayaka. Dalam fungsinya sebagai Wighnaghna Dewa, Batara Gana adalah manifestasi Tuhan yang dipuja untuk mohon perlindungan dan berbagai godaan yang datangnya dan luar diri manusia.Wighna dalam bahasa Sansekerta artinya halangan atau godaan yang datangnya dan luar diri. Karena itu Tirtha Pengelukatan di Pura Dalem Mangening itu memiliki arti Tuhan untuk melindungi umat dari godaan yang berasal dari luar diri manusia. Sedangkan Tirtha Wangsuhpada yang dapat dimohon di jeroan pura yang ada di sumur suci tersebut dapat menjadi sumber pemeliharaan dan pengembangan hidup di dunia sekala dan niskala.

Batara Ghana sebagai Winayaka Dewa adalah manifestasi Tuhan untuk menuntun umat manusia agar mendapatkan kehidupan yang bijaksana. Orang bijaksana adalah orang yang menggunakan akal budinya untuk mengendalikan indrianya untuk mengekspresikan kesucian Atman dalam perilaku sehari-hari. Keselamatan hidup akan diperoleh apabila kesucian Atman dalam perilaku sehari-hari. Keselamatan hidup akan diperoleh apabila kesucian Atman yang mendominasi dinamika kesadaran budhi dalam mengendalikan indria atau gejolak hawa nafsu. Karena itu atribut Batara Ghana adalah bertangan empat. Ada membawa Genitri ataujapa mala lambang bahwa ilmu pengetahuan suci itu tidak habis-habisnya untuk didalami. Ada membawa lontar sebagai lambang pustaka suci sumber ilmu pengetahuan.

Agama menurut Sarasamuscaya 181 adalah apa yang dinyatakan dalam kitab suci. Agama ngarania kawarah Sang Hyang Aji. Demikian dinyatakan Sarasamuscaya dalam keterangan dalam hahasa Jawa Kunonya. Tangan Batara Ghana yang lainnya ada yang membawa kapak. Kapak adalah salah satu hasil teknologi. Ilmu tersebut harus bisa menghasilkan teknologi untuk memberi berbagai kemudahan hidup bagi manusia. Sedangkan mangkuk lambang saran menampung amerta atau air kehidupan. Ini artinya puncak penggunaan Tirtha Pengetahuan yang diaplikasikan secara bijaksana manusia mendapatkan kehidupan yang Sejahtera lahir batin.

Upacara piodalan saat Banyupinaruh sangat tepat sebagai piodalan Ida Batara di Pura Dalem Mangening. Karena arti kata Banyupinaruh juga berarti air kehidupan yang harus diwujudkan oleh pengembangan ilmu pengetahuan. Kanena pada hari raya Saraswati umat Hindu secara simbolis sakral memperingati han ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.

Pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Agi Saraswati adalah untuk mengingatkan umat manusia agar jangan sampai menyalahgunakan ilmu pengetahuan untuk merusak manusia itu sendini. Mahatma Gandhi juga mengmngatkan bahwa ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan dapat memmbulkan dosa sosial. Hal ini patut dijadikan pegangan oleh umat yang mohon tirtha di Pura Dalem Mangening. Baik yang nunas Tirtha Pengelukatan maupun Tirtha Wangsuhpada.Nunas tirtha di Puna Dalem Mengenmg itu bukan untuk mengembangkan kehidupan yang tidak-tmdak. Jero Mangku menyatakan bahwa kalau benar-benar hening pikiran kita mohon sesuatu yang baik umumnya kaswecan

Pura Andakasa

PURA LUHUR ANDAKASA adalah pura kahyangan jagat yang terletak di Banjar Pakel Desa Gegelang Kecamatan Manggis, Karangasem. Pura ini didirikan atas konsepsi Catur Loka Pala dan Sad Winayaka. Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Catur Loka Pala adalah empat pura sebagai media pemujaan empat manifestasi Tuhan untuk memotivasi umat mendapatkan rasa aman atau perlindungan atas kemahakuasaan Tuhan. Keempat pura itu dinyatakan dalam kutipan Lontar Usana Bali di atas. Mendapatkan rasa aman (raksanam) dan mendapatkan kehidupan yang sejahtera (danam) sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib diupayakan oleh para pemimpin atau kesatria. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra I.89.

Usaha manusia itu tidak akan mantap tanpa disertai dengan doa pada Tuhan. Memanjatkan doa pada Tuhan untuk mendapatkan rasa aman (raksanan) di segala penjuru bumi itulah sebagai latar belakang didirikannya Pura Catur Loka Pala di empat penjuru Bali. Di arah selatan didirikan Pura Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Hyanging Tugu. Hal ini juga dinyatakan dalam Lontar Babad Kayu Selem. Sedangkan dalam Lontar Padma Bhuwana menyatakan: ”Brahma pwa sira pernahing daksina, pratistheng kahyangan Gunung Andakasa.” Artinya Dewa Brahma menguasai arah selatan (daksina) yang dipuja di Pura Kahyangan Gunung Andakasa. Yang dimaksud Hyanging Tugu dalam Lontar Usana Bali dan Babad Kayu Selem itu adalah Dewa Brahma sebagai manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai pencipta.

Pura Andakasa juga salah satu pura yang didirikan atas dasar konsepsi Sad Winayaka untuk memuja enam manifestasi Tuhan di Pura Sad Kahyangan. Memuja Tuhan di Pura Sad Kahyangan untuk memohon bimbingan Tuhan dalam melestarikan sad kertih membangun Bali agar tetap ajeg — umatnya sejahtera sekala-niskala. Membina tegaknya Sad Kertih itu menyangkut aspek spiritual yaitu atma Kertih. Yang menyangkut pelestarian alam ada tiga yaitu samudra kertih, wana kertih dan danu kertih yaitu pelestarian laut, hutan dan sumber-sumber mata air. Sedangkan untuk manusianya meliputi jagat kertih membangun sistem sosial yang tangguh dan jana kertih menyangkut pembangunan manusia individu yang utuh lahir batin.

Jadinya pemujaan Tuhan Yang Mahaesa dengan media pemujaan dalam wujud Pura Catur Loka Pala dan Sad Winayaka untuk membangun sistem religi yang aplikatif. Sistem religi berupaya agar pemujaan pada Tuhan Yang Maha Esa itu dapat berdaya guna untuk memberikan landasan moral dan mental.

Pura Andakasa dalam kesehariannya didukung oleh dua desa pakraman yaitu Desa Pakraman Antiga dan Gegelang. Menurut cerita rakyat di Antiga didapatkan penjelasan bahwa pada zaman dahulu di Desa Antiga ada tiga butir telur jatuh dari angkasa. Tiga telur tersebut didekati oleh masyarakat. Tiba-tiba telur itu meledak dan mengeluarkan asap. Asap itu berembus dari Desa Antiga menuju tiga arah. Ada yang ke barat daya, ke barat laut dan ke utara. Masyarakat Desa Antiga mendengar adanya sabda atau suara dari alam niskala. Sabda itu menyatakan bahwa asap yang mengarah ke barat daya desa adalah Batara Brahma. Sejak itu bukit itu bernama Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Brahma. Asap yang ke barat laut desa adalah Batara Wisnu menuju Bukit Cemeng didirikan Pura Puncaksari. Asap yang menuju ke utara desa adalah perwujudan Batara Siwa dipuja di Pura Jati. Tiga pura di tiga bukit itulah sebagai arah pemujaan umat di Desa Antiga dan Desa Gegelang.

Pemujaan Batara Brahma di Pura Andakasa ini dibangun di jejeran pelinggih di bagian timur dalam bentuk Padmasana. Di bagian jeroan atau pada areal bagian dalam Pura Andakasa di jejer timur ada empat padma. Yang paling utara adalah disebut Sanggar Agung di sebelah selatannya ada pelinggih Meru Tumpang Telu. Di selatan meru tersebut ada padmasana sebagai pelinggih untuk memuja Dewa Brahma atau Hyanging Tugu. Di sebelah selatan pelinggih Batara Brahma ada juga dua padmasana untuk pelinggih Sapta Petala dan Anglurah Agung.

Upacara pujawali atau juga disebut piodalan di Pura Andakasa diselenggarakan dengan menggunakan sistem tahun wuku. Hari yang ditetapkan sejak zaman dahulu sebagai hari pujawali di Pura Andakasa adalah setiap hari Anggara Kliwon Wuku Medangsia. Di samping ada pujawali setiap 210 hari, juga diselenggarakan upacara pecaruan setiap Anggara Kliwon pada wuku Perangbakat, wuku Dukut dan wuku Kulantir.

Setiap pujawali di Pura Andakasa pada umumnya diadakan upacara melasti ke Segara Toya Betel di Desa Pengalon. Tujuan melasti ini adalah untuk lebih menguatkan dan memantapkan umat dalam menyerap vibrasi kesucian Ida Batara di Pura Andakasa. Tujuan utama melasti menurut Sundarigama adalah anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana. Artinya mengatasi penderitaan rakyat, menghilangkan kekotoran (klesa) diri dan untuk menyucikan alam lingkungan dari pencemaran.